Desa Temiang – Salah satu potensi kearifan lokal yang masih terjaga di Kecamatan Bandar Laksamana, Kabupaten Bengkalis, adalah produksi jamu tradisional berbasis tanaman rimpang dan tanaman obat. Produk jamu ini diproduksi secara turun-temurun oleh Buk Tuti (36), warga Desa Temiang, yang memanfaatkan berbagai tanaman obat yang ditanam di sekitar pekarangan rumahnya. Beragam tanaman rimpang seperti kunyit, jahe merah, dan kencur tumbuh subur di lingkungan sekitar rumah Buk Tuti. Selain dikenal sebagai bumbu dapur, tanaman-tanaman tersebut juga memiliki khasiat sebagai obat tradisional yang telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat. Hingga saat ini, Buk Tuti masih aktif memproduksi jamu tradisional dari berbagai jenis tanaman rimpang dan rempah-rempah. Jamu racikannya tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Temiang, tetapi juga oleh warga desa-desa sekitar di Kecamatan Bandar Laksamana. Dalam proses pembuatannya, seluruh bahan jamu diolah secara alami tanpa bahan kimia. Bahan-bahan dipilih dari tanaman yang telah cukup umur, kemudian dijemur hingga kering dan ditumbuk secara tradisional agar khasiat alaminya tetap terjaga. Menurut penuturan Buk Tuti, jamu yang paling banyak dipesan adalah jamu khusus bagi ibu pasca melahirkan. “Sampai saat ini, jika ada yang memesan, kami akan membuatkan jamu untuk ibu setelah melahirkan. Biasanya yang memesan tidak hanya dari Desa Temiang, tetapi juga dari desa-desa sekitar,” ungkap Buk Tuti. Jamu pasca melahirkan ini dipercaya memiliki berbagai manfaat, antara lain membantu memulihkan kondisi rahim, melancarkan peredaran darah, serta memulihkan stamina tubuh yang melemah setelah proses persalinan. Konsumsi jamu ini umumnya dianjurkan selama 44 hari setelah melahirkan. Paket jamu Desa Temiang terdiri dari dua jenis, yaitu jamu untuk dikonsumsi dan serbuk jamu untuk dioleskan ke wajah serta seluruh tubuh. Jamu oles berfungsi untuk membantu menjaga kehangatan tubuh dan mencegah masuk angin. Paket jamu tersebut dijual dengan harga Rp280.000,-, dengan masing-masing kemasan seberat ½ kilogram. Jamu yang telah diramu mampu bertahan hingga empat bulan dan siap digunakan sesuai kebutuhan. Bahan-bahan jamu untuk diminum antara lain:
Seluruh bahan tersebut dijemur hingga kering sebelum ditumbuk menjadi serbuk jamu siap konsumsi. Bahan serbuk jamu untuk bedak oles meliputi:
Bahan-bahan bedak oles ini dijemur hingga kering, kemudian ditumbuk halus dan dicampur dengan tepung beras. Ke depan, Buk Tuti bersama 11 orang kelompok perempuan Desa Temiang berencana mengembangkan budidaya jahe merah secara lebih luas. Saat ini, secara swadaya telah disiapkan sekitar 1.000 karung sebagai media tanam jahe merah, dengan harapan mendapatkan dukungan bibit untuk pengembangan usaha jamu tradisional ini. |
Kecamatan | 2026
Kelurahan | 2026
Kelurahan | 2026